BATUBASA LUNCURKAN BUKU ADAT
Kerapatan Adat Nagari (KAN) Batu Basa Kecamatan Pariangan meluncurkan buku adat salingka nagari. Buku itu dianggap sebagai referensi adat dan syarak bagi anak nagari Batu Basa.
Ketua KAN Batu Basa, Drs. Amir Syarifuddin Dt. Makhudum Sati langsung menjadi penulis dan editor lahirnya buku ini.
Dt. Makhudum Sati mengatakan pada Singgalang, Kamis (30/12), peluncuran bukunya telah dilakukan pada saat kegiatan pelatihan dan pembekalan adat salingka nagari bagi ninik mamak, bundo kandung dan alim ulama Nagari Batu Basa, yang dihadiri oleh Ketua LKAAM Tanah Datar Zulfahmi, Dt. Rajo Putih dan Camat Pariangan, Selasa (28/12) lalu di Batu Basa.
Selama ini, sebut Ketua KAN, aturan adat salingka nagari belum ada yang tertulis. Hanya diterima melalui lisan yang disampaikan oleh tokoh adat, tetua nan didanga dan pusako nan dijawek, sehingga generasi muda nagari Batu Basa belum begitu paham dan mengerti tentang aturan adat di nagarinya, baik generasi muda yang lahir di rantau atau di kampung.
Ia menyebut, dengan adanya buku ini generasi muda dapat mempelajari dan mempedomaninya.
Dijelaskan Dt. Makhudum Sati, buku tersebut berisikan segala aspek kehidupan masyarakat nagari dibidang adat, sosial, budaya, ekonomi serta kegiatan tradisi seperti baralek, nikah-kawin, sunat rasul, termasuk olahraga, kesehatan dan permainan anak nagari.
Sebagai penghormatan, tambahnya, buku tersebut diserahkan kepada ketua LKAAM, camat dan seluruh peserta pelatihan adat.
Sementara, Ketua LKAAM menyambut baik pelun curan buku yang dihasilkan oleh pelaku adat itu. Ia meminta agar buku ini jadi referensi dan bacaan utama bagi warga Batu Basa.
ABS-SBK telah terlaksana
Pada kesempatan itu, Ketua LKAAM Tanah Datar mengatakan bahwa ABS-SBK sudah dilaksanakan oleh masyarakat di 75 nagari di Tanah Datar, dan sudah menjadi pijakan masyarakat di Minangkabau berdasarkan Sumpah Satie Bukik Marapalam.
Dikatakan Dt. Rajo Putih, dimana saja kegiatan dan apa saja kegiatan masyarakat nagari tetap mengacu dan berpedoman pada ABS-SBK.
Menurutnya, masih ada komentar yang berkembang yang meragukan tentang aplikasi ABS-SBK. Yang meragukannya adalah mereka yang belum paham tentang keberadaan dan pelaksanaan ABS-SBK di nagari.
Ia mengimbau agar semua komponem membangun bersama-sama dengan ABS-SBK, mempertahankan sistem materilineal, sako dan pusako. “Kita bangun nagari, hormati penghulu dan orang tua,” harapannya.
Sumber: Singgalang Indepen, Jumat 30 Desember 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar